
Jakarta, Berita Faktanews – Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dinilai masih diperdagangkan di bawah nilai wajarnya. Analis memproyeksikan saham emiten batu bara pelat merah tersebut berpeluang bergerak menuju harga wajar seiring fundamental bisnis yang dinilai tetap solid.
Berdasarkan riset Phintraco Sekuritas, PTBA merupakan salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia dengan wilayah izin usaha pertambangan (IUP) seluas 65.632 hektare di Sumatra Selatan. Perseroan memproduksi batu bara termal berperingkat rendah hingga menengah, dengan nilai kalor 2.800–6.100 kilokalori/kg GAR serta kadar abu dan sulfur yang relatif rendah, sehingga banyak digunakan untuk kebutuhan PLTU dan industri.
Selain bisnis pertambangan, PTBA juga memiliki lini usaha logistik berupa transportasi kereta api dan trucking, pelabuhan bongkar muat batu bara, fasilitas penanganan batu bara, serta bisnis energi melalui PLTU dan PLTS yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Phintraco mencatat, proyek jalur kereta api Tanjung Enim–Keramasan ditargetkan beroperasi pada kuartal II-2026. Hingga September 2025, progres konstruksi telah mencapai 58 persen. Jalur sepanjang 158 kilometer ini memiliki kapasitas angkut hingga 20 juta ton per tahun.
“Seiring pengoperasian rute baru tersebut, PTBA juga melakukan peningkatan kapasitas pelabuhan eksisting, yakni Pelabuhan Tarahan dari 27,5 juta ton menjadi 28 juta ton dan Pelabuhan Kertapati dari 8 juta ton menjadi 8,5 juta ton,” tulis Phintraco dalam risetnya.
Dari sisi kinerja keuangan, PTBA mencatatkan pendapatan sebesar Rp31,33 triliun hingga September 2025, naik 2 persen secara tahunan. Kenaikan ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan sebesar 8 persen menjadi 33,7 juta ton, meski harga jual rata-rata (ASP) turun 6 persen menjadi Rp910 ribu per ton akibat pelemahan harga batu bara global.
Produksi PTBA meningkat 9 persen, sejalan dengan kenaikan volume transportasi sebesar 8 persen menjadi 30,02 juta ton, termasuk lonjakan signifikan pada angkutan non-KAI. Namun, laba bersih tercatat turun 57 persen menjadi Rp1,4 triliun, tertekan oleh penurunan harga batu bara dan kenaikan biaya bahan bakar.
Ke depan, pendapatan PTBA diproyeksikan relatif stabil pada tahun 2025 di level Rp42,9 triliun, turun tipis menjadi Rp42 triliun pada 2026, sebelum kembali tumbuh sekitar 4 persen menjadi Rp43,6 triliun pada 2027. Proyeksi tersebut mencerminkan ketahanan fundamental PTBA di tengah normalisasi siklus harga batu bara.
Dengan metode discounted cash flow (DCF), Phintraco Sekuritas merekomendasikan buy untuk saham PTBA dengan target harga Rp2.800 per saham, didukung oleh valuasi fundamental yang menarik dan enterprise value sebesar Rp32,3 triliun.
(R01-R12-Red-BFN)
